Tol Laut Menjangkau Nusantara Sampai Pulau Terluar

Sabtu, 11 Sep 2021 10:54 WIB
SHARE

Jakarta – Bukan hal mudah untuk mengatasi disparitas harga di Indonesia. Hal ini disebabkan wilayah yang luas, sentra produksi, masalah distribusi yang tidak merata sehingga menyebabkan biaya logistik yang tinggi.

Disparitas harga ini turut menciptakan ketidakadilan dalam kemakmuran di sebuah wilayah. Tapi pemerintah melalui Peraturan Presiden nomor 27 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik untuk Angkutan Barang Dari dan ke Daerah Tertinggal, Terpencil, Terluar dan Perbatasan (3TP) berupaya untuk menjamin angkutan barang ke wilayah-wilayah tersebut.

Tujuannya agar tak ada lagi kelangkaan barang, meningkatkan kesejahteraan hingga kesinambungan pelayanan. Salah satunya adalah angkutan barang laut yang menugaskan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) untuk melaksanakan pelayanan publik untuk angkutan barang di laut.

Tol laut ini sebenarnya sudah digagas oleh Presiden Joko Widodo sejak 2015 lalu. Tujuannya adalah untuk pemerataan dan menekan disparitas harga di wilayah 3TP.

Dikutip dari ksp.go.id disebutkan berdasarkan data Kementerian Perdagangan pada kuartal I tahun ini terjadi penurunan harga hingga 40,5% untuk komoditas tertentu. Misalnya harga besi baja konstruksi 16 mm di Kabupaten Halmahera Selatan yang diangkut Tol Laut Rp 119 ribu lebih rendah dibanding rute non Tol Laut sebesar Rp 200 ribu.

Selanjutnya harga Daging Ayam Ras di Kabupaten Buru Selatan turun dari Rp 60 ribu per kg menjadi Rp 45 ribu per kg. Lalu harga bawang putih di Kabupaten Fakfak turun dari Rp 40 ribu menjadi Rp 30 ribu. Selanjutnya harga kedelai di Kabupaten Muna turun dari Rp 15.000 per kg menjadi Rp 9.600 per kg.

Tol Laut di Wilayah Terluar Indonesia

Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno mengungkapkan masalah disparitas harga ini masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan oleh pemerintah. Hal ini demi terciptanya kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan di berbagai wilayah di Indonesia.

Termasuk untuk wilayah Tertinggal, Terpencil, Terluar dan Perbatasan. Pengiriman atau distribusi yang lancar akan membuat pasokan barang lebih baik sehingga harga bisa lebih stabil.

Dia menjelaskan tol laut ini memang memberikan manfaat untuk sejumlah wilayah yang dilalui. Misalnya adalah Kabupaten Sabu Raijua yang terletak di Nusa Tenggara Timur.

“Daerah Kabupaten Sabu Raijua itu merasakan sekali manfaat dari tol laut,” kata dia.

Dia menyebutkan dengan tol laut ini warga di daerah terpencil bisa mendapatkan pasokan barang sehingga tidak terjadi kelangkaan dan hal ini akan mempengaruhi harga.

Menurut Djoko dalam praktiknya tol laut ini juga perlu dilakukan evaluasi. Misalnya untuk trayek atau pengiriman tidak cuma dari Jawa. Tapi juga bisa dari Papua ke NTT atau Maluku.

“Dari Merauke penghasil beras, bisa memasok kebutuhan beras di NTT, Maluku dan Maluku Utara,” jelasnya.

Sekretaris Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sabu Raijua, Lagabus Pian mengungkapkan dengan tol laut KM Kendhaga Nusantara 11 yang dikelola PT PELNI ini membuat barang kebutuhan pokok di wilayah Sabu Raijua lebih mudah didapatkan.

“Kebutuhan pokok tersedia dan barang penting harganya bisa lebih rendah,” ujar dia kepada detikcom. Untuk muatan balik, hasil bumi yang dihasilkan oleh penduduk setempat adalah garam.

Barang yang diangkut ke wilayah Sabu ini adalah air mineral, ayam beku sampai bahan bangunan. Satu kali tiba biasanya mencapai 10-15 unit kontainer.

Pian mengungkapkan dalam tahun 2021 tol laut sudah 4 kali melayani di Sabu Raijua. Hal ini karena pelayanan sempat terhenti karena kapal Kendhaga Nusantara 11 docking atau pemeliharaan kapal dan dermaga Biu mengalami kerusakan.

“Karena rusaknya dermaga Biu, sehingga 1 kontainer hanya dibolehkan 15 ton barang dengan harga kontainer yang sama. Harapan masyarakat adalah agar dermaga bisa segera diperbaiki sehingga layanan tol laut bisa lebih optimal.

Tol laut yang melayani rute ke Sabu ini dijadwalkan 2 minggu sekali. Dengan trayek KM Kendhaga Nusantara 11 rute Tanjung Perak-Rote-Sabu-Tanjung Perak.

Sabu Raijua ini adalah salah satu Kabupaten yang ada di bawah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kabupaten ini adalah wilayah kepulauan yang terdiri dari 2 pulau besar yaitu Pulau Sabu dan Pulau Raijua serta 2 pulau kecil yaitu Pulau Dana dan Pulau Wadu Mea.

Pulau Sabu ini juga punya garis pantai paling besar yaitu 991,18 km, sedangkan panjang garis pantai terkecil adalah Pulau Wadu Mea yakni 0,26 km. Wilayah laut di selatan Kabupaten Sabu Raijua ini berbatasan langsung dengan wilayah laut Australia.

Nah dengan posisi ini, Kabupaten Sabu Raijua termasuk Kabupaten Perbatasan atau wilayah terluar berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 179 Tahun 2014 Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perbatasan Negara di provinsi NTT.

Sebelah utara berbatasan dengan Laut Sawu, selatan dengan Samudera Indonesia, Sebelah Barat dengan Laut Sawu atau Sumba Timur dan Sebelah Timur Laut Sawu dan Rote Ndao. Jaraknya sekitar 615 kilometer dari Labuan Bajo, masih harus melalui jalan darat dan menyeberangi lautan.

Peran Pelni

Direktur Usaha Angkutan Barang & Tol Laut PELNI Yahya Kuncoro mengungkapkan untuk menjalankan penugasan dari pemerintah, PELNI saat ini memiliki 9 trayek tol laut.

Tahun ini saja periode Januari – Juli 2021 perseroan telah mengangkut 6.984 Twenty Foot Equivalent Units (TEUs). Komposisinya untuk muatan berangkat sebanyak 4.323 TEUs dan muatan balik 2.661 TEUs.

“Jumlah muatan 2021 ini naik 77% dibandingkan periode yang sama dibandingkan tahun lalu sebesar 3.681 TEUs,” kata dia kepada detikcom.

Yahya menjelaskan dari 9 trayek tol laut ini produksi paling tinggi pada semester I adalah KM Logistik Nusantara 5 atau trayek T-10 dengan total 1.834 TEUs.

Trayek ini melayani rute Tanjung Perak-Tidore-Morotai-Galela-Maba-Weda-Tanjung Perak. Selanjutnya trayek dengan padat muatan selanjutnya adalah KM Logistik Nusantara 3 (trayek T-15) menyumbang sebanyak 1.210 TEUs muatan dengan rute Tanjung Perak-Makasar-Jailolo-Morotai-Tanjung Perak.

Muatan yang paling banyak diangkut saat berangkat adalah bahan pokok seperti beras, gula sampai air mineral. Sedangkan untuk muatan balik mayoritas hasil bumi wilayah 3TP seperti produk kelapa dan turunannya. Misalnya batang atau kayu, kelapa, kopra dan produk perikanan.

Untuk terus meningkatkan kualitas layanan tol laut ini PELNI membuka diri untuk pola kerja sama dengan pihak lain. Mengacu pada Perpres Nomor 27 Tahun 2021 PELNI juga melakukan pendekatan serta komunikasi yang baik kepada seluruh Kementerian terkait untuk meningkatkan keterisian muatan pada kapal balik dan muatan berangkat.

Jika hal ini sudah optimal maka diharapkan penurunan disparitas harga bisa semakin baik. Sehingga bisa mendorong peningkatan ekonomi serta pembangunan di daerah 3TP. PELNI berupaya untuk memperbaiki aplikasi LCS ke Sitolaut yang lebih efektif ini agar bisa memonitor pergerakan kapal sebagai sarana informasi ke customer.

Lalu penjadwalan kapal yang dirilis 30 hari sebelum keberangkatan kapal. Selanjutnya penambahan jenis muatan yang dapat diangkut dengan Tol Laut sesuai PM 53 Tahun 2020.

Kemudian peningkatan muatan berjenis komersil pada trayek Tol Laut. “Meningkatkan customer relationship management hingga menambah layanan door service yaitu rencana kerja sama dengan perusahaan anak perusahaan dan BUMN lainnya,” jelas dia.

Yahya juga menjalaskan PELNI juga terus melakukan optimalisasi ruang kosong di kapal untuk lokasi redpack dengan pembuatan rack di kapal penumpang.

Selanjutnya memanfaatkan aplikasi Mycargoo yang memudahkan shipper untuk melihat secara detail slot cargo yang tersedia secara realtime dan melakukan tracking muatan dengan menyediakan empat layanan berbeda yaitu door to door (full service), door to port, port to door dan port to port sehingga harga yang ditawarkan juga semakin kompetitif.

ia menyebut ke depan PELNI akan bekerja sama dengan perusahaan logistik lain seperti PT POS, JNE sampai kereta logistik. Hal ini demi memudahkan proses pengiriman barang dari pelabuhan ke tempat tujuan.

“Kalau Pelni kan angkut barang ke pelabuhan, tapi end usernya terputus karena kita izinnya pengangkut. Kita kerja sama dengan kereta api, jadi bisa terkoneksi semua angkutan. Misalnya dengan JNE dan PT POS kerja sama untuk ritel,” ujar dia.

Himpunan pengusaha peternak sapi kerbau NTT, Daniel mengungkapkan tol laut untuk kapal ternak ini memberi kemudahan untuk peternak dan pedagang ternak bisa mengirimkan ke pulau lain.

“Dengan kapal khusus ternak ini jadi lebih mudah. Kami berterima kasih kepada PT Pelni yang telah mengelola rute kapal, sangat membantu sekali untuk kami karena dengan informasi yang sangat terbuka,” jelasnya.

Kemudian salah satu pengguna Tol Laut, Afon mengungkapkan para pedagang menjadi lebih mudah untuk booking tempat di kapal ini dengan aplikasi SITOLAUT.

“Dulu kirim barang ke tempat tujuan sangat tinggi harganya, sekarang relatif lebih terjangkau. Di sisi lain ada aplikasi SITOLAUT ini memudahkan pedagang untuk proses booking,” jelas dia.

 

Sumber : https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5717220/tol-laut-menjangkau-nusantara-sampai-pulau-terluar?_ga=2.53640747.2097459458.1631241067-135627031.1582002394