Tol Laut Indonesia: Asa Pembangunan Konektivitas Nasional

Sabtu, 28 Aug 2021 09:29 WIB
SHARE

Jakarta – ‘Indonesia bukan pulau-pulau dikelilingi laut. Tetapi, laut yang ditaburi pulau-pulau’ – AB Lapian. Laut Indonesia yang sama luasnya dengan daratan tidak lantas dianggap sebagai batas pemisah, tetapi menjadi jembatan yang menyatukan antarpulau. Sejak dahulu, Indonesia telah menjadi kekuatan maritim dunia, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Pelabuhan-pelabuhan kuno Nusantara menjadi saksi bisu kuatnya pengaruh kemaritiman saat itu, khususnya pada masa gemilang Majapahit.

Kemaritiman ini kemudian terajut menjadi sebuah jati diri bangsa Indonesia sebagai negara kepulauan yang menjunjung tinggi persatuan tanpa mengenal batas daratan. Jati diri tersebut menjadi suatu karakter atau identitas yang melekat dan menjadi bagian kehidupan bangsa Indonesia yang tak dapat dipisahkan (Kemdikbud, 2016).

Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki potensi kelautan dan geografis yang strategis. Hal tersebut menjadikan laut Indonesia bukan hanya wilayah yang memiliki sumber daya alam melimpah, tetapi juga sebagai sarana jalur transportasi domestik maupun internasional. Distribusi kebutuhan sandang, pangan, dan papan antarwilayah Indonesia sering kali bergantung pada sektor transportasi laut. Namun, lemahnya konektivitas laut antarwilayah, salah satunya berdampak pada tingkat Logistic Performance Index (LPI).

Menurut World Bank, LPI merupakan indeks yang menjadi tolok ukur negara-negara untuk mengidentifikasi tantangan serta permasalahan pada logistik perdagangan sehingga dapat merumuskan rancangan strategi kebijakan dalam merespon hal tersebut (World Bank, 2015).

Tercatat pada tahun 2016 akumulasi skor LPI Indonesia berada pada angka 2,98 atau pada peringkat 63 dunia. Secara rinci, skor tersebut terbagi menjadi tujuh komponen, yaitu customs, infrastructure, international shipments, logistics quality and competence, tracking and tracing, dan timeliness. Skor LPI tertinggi terlihat pada komponen timeliness dengan skor 3,46, namun masih berada di posisi 62 dunia. Komponen tracking and tracing berada pada peringkat yang lebih baik yaitu pada 51 dengan skor LPI 3,19. Sementara itu, komponen infrastructure yang menjadi landasan dalam pembangunan dan peningkatan skor LPI, menjadi komponen dengan peringkat dan skor paling buncit di antara semua komponen, yaitu pada peringkat 73 dunia dengan skor 2,65.

Merespon lemahnya sisi infrastruktur, pemerintah giat mencanangkan program peningkatan infrastruktur di segala sektor, salah satunya sektor kelautan. Pembangunan pelabuhan dan akses jalan menuju pelabuhan menjadi salah satu fokus pemerintah agar dapat meningkatkan daya saing maritim serta aksesibilitas dalam distribusi logistik. Program kerja tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk Tol Laut Indonesia. Sejak tahun 2015, tol laut telah digunakan sebagai penyedia sistem distribusi logistik yang meningkatkan konektivitas laut dengan menggunakan kapal besar, yang melayari secara rutin dan terjadwal dari barat hingga timur Indonesia.

Pada tahun ini, telah terdapat total 26 trayek tol laut dari yang awalnya hanya berjumlah 6 trayek. Kementerian Perhubungan juga berencana untuk menambahkan hingga 30 trayek pada tahun 2022 mendatang. Tol Laut Indonesia beroperasi dengan menghubungkan pelabuhan di jalur atau rute utama dan melakukan distribusi ke pulau lain dengan kapal-kapal yang lebih kecil. Terhubungnya rute-rute utama distribusi tentunya meningkatkan konektivitas domestik antarpulau di Indonesia sehingga terjadi eskalasi keterjangkauan distribusi logistik ke daerah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan (3TP).

Peningkatan konektivitas ini sangat penting, mengingat Indonesia merupakan archipelagic state atau negara kepulauan terbesar di dunia. Penerapan program Tol Laut Indonesia memberikan hasil positif terhadap skor LPI secara akumulasi. Terlihat pada Tabel 1, skor LPI meningkat menjadi 3,15 (meningkat 0,17 dibandingkan pada tahun 2016) dan berada pada peringkat 46 dunia. Secara keseluruhan, skor komponen LPI Indonesia juga meningkat. Pada komponen international shipments dan infrastructure bahkan terjadi peningkatan yang signifikan. Infrastructure yang sebelumnya berada pada peringkat 73 dunia, pada tahun 2018 bertengger di posisi 54 dunia dengan skor 2,89.

Hal serupa terjadi pada komponen international shipments yang sebelumnya pada peringkat 71 dunia, kini bertengger pada posisi 42 dunia dengan skor 3,23. Peningkatan konektivitas merupakan hal yang esensial untuk menjamin ketersediaan barang dan mengurangi disparitas harga barang di seluruh bagian Indonesia sehingga menjadikannya konvergen. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, terdapat penurunan harga barang sebesar 20-30 persen bagi daerah yang dilewati oleh tol laut.

Indonesia memiliki tantangan yang berbeda dengan negara lainnya karena bentuk negaranya kepulauan dengan transportasi laut sebagai tulang punggung lalu lintas barang. Berdasarkan data dari tahun 2010-2020, dapat diketahui bahwa terjadi tren inflasi volatile foods yang menurun tiap tahunnya dari 8,58% menjadi 3,27%. Tren yang menurun ini tidak terlepas dari upaya pemerintah dengan menerapkan kebijakannya, baik strategis maupun struktural yang salah satunya adalah program tol laut sejak tahun 2015 hingga kini.

Peningkatan konektivitas yang dihasilkan oleh adanya tol laut juga memberikan manfaat bagi Indonesia di pasar global. Salah satu manfaatnya dapat dilihat dari daya saing Indonesia. Dari data pada Tabel 2 di atas, IMD World Competitiveness Index dari tahun 2015 hingga 2020 memiliki peningkatan tren peringkat, dari sebelumnya di posisi 42 menjadi 40. Namun, jika dilihat dari 2 tahun belakangan, Indonesia jatuh 8 posisi dari peringkatnya di tahun 2019, yaitu 32 menjadi 40 pada 2020.

Lalu, jika dilihat dari keempat faktor, yaitu performa ekonomi, efisiensi pemerintahan, efisiensi bisnis, dan infrastruktur, pada tahun 2020 peringkat Indonesia menurun di semua faktor tersebut. Terlebih, Indonesia masih relatif rendah jika dilihat dari faktor infrastruktur, Indonesia masih menempati peringkat ke-55 dari 64 negara. Hal ini berarti Indonesia masih perlu meningkatkan daya saingnya di dunia internasional, terutama pada sektor infrastruktur. Pembangunan infrastruktur guna meningkatkan daya saing bukan hanya berdampak secara nasional, tetapi juga internasional.

Sejalan dengan tujuan Indonesia untuk mempertegas jati diri sebagai negara maritim, Tol Laut Indonesia telah memberikan dampak dan asa terhadap pembangunan infrastruktur kelautan guna mendukung konektivitas antarpulau. Hal tersebut juga dapat meminimalkan biaya logistik Indonesia yang relatif tinggi di kawasan Asia Tenggara. Infrastruktur yang memadai dan tersebar merata di seluruh Indonesia juga diharapkan dapat mengurangi kesenjangan nasional.

Pemerataan tersebut diwujudkan dalam bentuk menjaga disparitas inflasi Indonesia di titik terendah dan secara tidak langsung berdampak pada perekonomian Indonesia dalam hal meningkatkan konsumsi masyarakat. Hal tersebut pada akhirnya dapat mempertegas posisi Indonesia sebagai negara maritim, yang salah satunya dilihat dari sektor ekonomi.

 

Sumber : https://news.detik.com/kolom/d-5695933/tol-laut-indonesia-asa-pembangunan-konektivitas-nasional?_ga=2.65104298.524369927.1630116893-135627031.1582002394